Psikologi & Teknologi Internet
Online Personality : How Avatar Impact Towards Impression
Fong, K., & Mar, R. A. (2014). Personality and Social Psychology Bulletin. What Does My Avatar Say About Me, 41(2),237-247. Retrieved From https://t.co/pPCqIV8gVt.
Mahadian, A. B., & Supratman, L. P. (2016). Psikologi Komunikasi. Yogyakarta: Deepublish.
Baumeister, R.F., & Liu, D. (Juli 2016). Journal of Research in Personality. Social Networking Online and Personality of Self-Worth: A Meta-Analysis, 64, 79. doi: 10.1016/j.jr p.2016.06.024

Komunikasi dan interaksi sosial merupakan kunci
bagi manusia kehidupan sepanjang sejarah evolusi, dan mereka tetap sangat
sentral terhadap aspek motivasi manusia (dalam Liu & Baumeister, 2016). Komunikasi
memungkinkan manusia untuk mempelajari apa yang dihadapi manusia serta
strategi-strategi yang bersifat adapatif untuk kehidupan kedepannya. Menurut
Gorden (dalam Mahadian & Supratman, 2016) ,fungsi komunikasi sosial
mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri,
aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, terhindar dari
tekanan dan ketegangan. Komunikasi dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan
emosional, seperti kasih sayang dari orang lain, empati dari keluarga, dan lain
sebagainya. Serta untuk memenuhi kebutuhan intelektual, seperti norma untuk
makan, norma berbicara dengan orang yang lebih tua, dan lain-lain.
Kemajuan teknologi
dengan munculnya Social Networking Sites
(SNSs) memungkinkan manusia untuk terhubung satu sama lain bukan hanya di
Negara tempat tinggalnya, tetapi juga di Negara lain yang dikehendaki. Contoh
dari SNSs, atau lebih sering disebut Social Media (SocMed), antara lain
adalah Facebook, Twitter, dan Instagram. Selain untuk terhubung dengan
keluarga dan rekan, platform ini juga
memungkinkan penggunanya bertemu dan mengembangkan jalinan pertemanan saat online.






Avatar
dapat mengkomunikasikan informasi yang akurat dan khas mengenai kepribadian,
dan individu dengan ciri kepribadian tertentu menciptakan avatar yang lebih mungkin dirasakan secara akurat, juga ditemukan
bahwa individu yang menyenangkan dan normatif membuat avatar yang memunculkan lebih banyak keinginan untuk berteman
dibandingkan orang lain, menyiratkan bahwa kesan yang diberikan oleh avatar digital seseorang dapat memiliki
konsekuensi sosial. Heiser et al menyatakan bahwa berinteraksi melalui CMC (Computer-Mediated-Communication)
dapat mempengaruhi cara kita membentuk kesan tentang orang lain, sementara
individu online mengidentifikasikan
isyarat spesifik untuk membentuk kesan dan menggunakan isyarat ini untuk
membentuk kesan terhadap orang lain. Isyarat ini bisa jadi berdasarkan teks,
seperti emoticons, usernames, dan gaya menulis. Menurut
Taylor, avatar juga dapat menjadi
alat yang penting untuk memupuk
hubungan, meningkatkan perasaan dari konektivitas sosial dan keterlibatan emosional.
Sebuah pernyataan dari Nass dan Moon, karena individu terkadang melakukan anthropomorphize (yaitu ketika kita
berbicara tentang sesuatu atau hewan seakan-akan sesuatu atau hewan tersebut
adalah manusia) avatar , sesuai dengan Naumann et al, tidak mengherankan
jika pemerhati atau yang melihat avatar
tersebut menanggapi avatar dengan
cara yang mirip dengan bagaimana bentuknya kesan individu di dunia nyata
(misalnya, berdasarkan penampilan fisik). Karakteristik visual dari avatar, oleh
karena itu, memainkan peran yang penting dalam bagaimana orang lain dilihat
juga bagaimana individu memilih untuk menggambarkan diri. Berdasarkan Williams
et al, bagaimanapun juga, ada alasan untuk percaya bahwa avatar mungkin memuat isyarat identitas yang valid, individu yang tidak merasa nyaman atau ‘terpinggirkan’ di
dalam dunia nyata bisa saja melihat dunia virtual,
dan avatar yang digunakan oleh
mereka, sebagai sebuah kesempatan untuk mengekspresikan ‘diri sejati’ dari
mereka. (dalam Fong & Mar, 2014)
Interaksi secara online semakin hari semakin ramai, mengingat teknologi yang semakin
maju dari waktu ke waktu, memungkinkan platform
komunikasi mengalami perkembangan baik fitur maupun penggunanya. Memahami pembentukan
kesan pada dunia virtual, adalah hal
yang tepat dan relevan dengan perkembangan zaman. Bahkan menurut Gosling et al
(dalam Fong & Mar, 2014), telah disarankan untuk bertemu individu secara online daripada di dunia nyata karena
kekayaan informasi yang disediakan oleh halaman web dan/atau profil jejaring sosial. Temuan dari penelitian yang
dilakukan oleh Fong dan Mar (2014), menunjukkan bahwa kita dapat menggunakan proxy virtual seperti avatar
untuk menyimpulkan pribadi yang ingin kita tunjukkan atau bahkan pribadi sejati
itu sendiri. Penting juga, tentang bagaimana kesan yang kita ciptakan di
jejaring sosial mungkin memiliki dampak yang penting bagi kita, seperti
menjadikannya ketertarikan tersendiri bagi orang terhadap kita.
Sumber:Fong, K., & Mar, R. A. (2014). Personality and Social Psychology Bulletin. What Does My Avatar Say About Me, 41(2),237-247. Retrieved From https://t.co/pPCqIV8gVt.
Mahadian, A. B., & Supratman, L. P. (2016). Psikologi Komunikasi. Yogyakarta: Deepublish.
Baumeister, R.F., & Liu, D. (Juli 2016). Journal of Research in Personality. Social Networking Online and Personality of Self-Worth: A Meta-Analysis, 64, 79. doi: 10.1016/j.jr p.2016.06.024
Komentar
Posting Komentar